BREAKING NEWS

Blogger news

Selasa, 15 Oktober 2013

AL KINDI


FILOSOF ISLAM AL-KINDI

A.    PENDAHULUAN
Ya’kub Ibn Ishaq Al-Kindi adalah seorang seorang filosof yang berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir di Kufah (Irak) pada tahun 796 M. Beliau adalah seorang anak dari Gubernur Basrah. Al-Kindi adalah seorang filosof Muslim pertama, baginya falsafat adalah pengetahuan  tentang yang benar. Al-Kindi hidup pada masa penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi turut aktif dalam kegiatan penerjemahan ini. Di samping menerjemahkan, Al-Kindi juga memperbaiki terjemahan-terjemahan yang ada sebelumnya. Karena keahlian dan keluasan pandangannya, ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi guru putra Khalifah al-Mu’tasim, yaitu Ahmad. Al-Kindi menganut golongan Mu’tazilah dan pemikiran beliau banyak terpengaruh dari pemikiran Plato dan Aristoteles. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut.

B.     FALSAFAT AL-KINDI
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Al-Kindi selain seorang filosof juga merupakan seorang ahli pengetahuan. Ia membagi pengetahuan menjadi dua bagian, yaitu pertama adalah Pengetahuan Ilahi (Divine Science), yaitu pengetahuan yang langsung diterima Nabi oleh Tuhan dan dasar dari pengetahuan ini adalah keyakinan, kedua adalah Pengetahuan Manusiawi (Human Science), yang didasari atas pemikiran. Falsafat bagi Al-Kindi adalah pengetahuan tentang yang benar, seperti halnya agama yang menerangkan tentang kebenaran dan agamalah dasar dari falsafat. Bagi Al-Kindi falsafat adalah ilmu yang termulia serta terbaik dan yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berpikir.

1.      Falsafat Ketuhanan Al-Kindi
Bagi Al-Kindi falsafat yang tertinggi adalah falsafat tentang Tuhan. Tuhan dalam falsafat Al-Kindi tidak seperti pandangannya tentang alam, karena Tuhan bukan benda-benda dari alam. Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan). Dalam pandangan filsafat Al-Kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan tidak tersusun dari materi dan bentuk, Tuhan hanya satu dan tidak ada yang menyamaiNya. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. Dalam falsafat Tuhan, Al-Kindi mempunyai perbedaan pendapat dengan Aristoteles mengenai Tuhan. Aristoteles berpendapat bahwa Tuhan adalah penggerak pertama terhadap alam semesta, sedangkan Al-Kindi mengikuti ajararan yang ada dalam agama Islam, yaitu Tuhan sebagai pencipta alam. Alam bagi Al-Kindi merupakan permulaan dan tidak kekal, hal ini sependapat dengan falsafat Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu adalah sumber dari alam dan sumber dari segala yang ada.

2.      Falsafat Jiwa Al-Kindi
Didalam Al Qurana dan Al Hadits tidak dijelaskan tentang roh, namun para filosof-filosof Islam membahas tentang roh ini berdasarkan filosof Yunani yang terdahulu. Menurut Al-Kindi roh itu tidak tersusun tetapi memiliki arti penting dan berasal dari substansi Tuhan, yang memiliki hubungan seperti cahaya dan matahari. Al-Kindi juga menjelaskan bahwa roh merupakan perlainan dari badan, dan keberadaan roh menentang keinginan hawa nafsu tidak seperti badan yang cenderung mempunyai hawa nafsu dan dari roh inilah manusia memperoleh pengetahuan, baik pengetahuan akal, (pengetahuan yang hanya dapat diperoleh ketika manusia berhasil melepaskan diri dari sifat binatang yang ada dalam tubuhnya), maupun pengetahuan panca indera (pengetahuan lahir). Dalam akal,  Al-Kindi membagi akal menjadi tiga macam, yaitu; akal yang bersifat potensil, akal yang bersifat aktuil, dan akal yang selamanya dalam aktualitas.

3.      Metafisika Al-Kindi
Al-Kindi berpendapat bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri berada di atas ketentuan hukum alam. Meskipun Al-Kindi sering memakai dan sependapat dengan pemikiran Plato dan Aristoteles, namun dalam hal ini beliau menghiraukan prinsip Plato dan Aristoteles tentang eternal creation dan nothing can come from nothing. Al-Kindi menyesuaikan falsafatnya kepada asas kepercayaan Islam.

4.      Pendapat Al-Kindi Tentang Kenabian dan Al-Quran
Menurut Al-Kindi, seorang nabi adalah manusia yang mampu mencapai tingkat pengetahuan tertinggi manusia melalui wahyu. Pendapatnya tentang Al-Quran sama seperti kaum Mu’tazilah, bahwa kebenaran Al-Quran lebih dapat diyakini kebenarannya daripada hasil-hasil falsafat.

C.     PENUTUP
Falsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas kebenaran sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Falsafat adalah kerangka yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, yang bertujuan untuk menjadi jalan kebenaran, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, dan dimensi akliah manusia harus dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.

D.    KESIMPULAN
Al-Kindi adalah seorang yang menempatkan falsafat dalam kedudukan yang tinggi yang tak bisa ditinggalkan oleh orang-orang yang berpikir. Pemikirannya banyak terpengaruh oleh pemikiran filosof-filosof Yunani, seperti Plato dan Aristoteles. Beliau berfalsafat berdasarkan keyakinan dan searah dengan ajaran Islam. Selain seorang filososf, Al-Kindi bukan hanya cinta pada falsafat, namun beliau juga seseorang yang mendalami ilmu pengetahuan (sains).



DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1980
Drs. Poerwantana DKK, Seluk-Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung
http://kampoengnofra.blogspot.com/2011/02/sejarah-al-kindi.html

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 belajar dan bertelur. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates