BREAKING NEWS

Blogger news

Selasa, 15 Oktober 2013

AR RAZI


FILOSOF ISLAM AR-RAZI
Oleh : Fachri Sakti Nugroho

A.    PENDAHULUAN
Nama lengkap dari Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-razi, beliau adalah seorang dokter yang terkenal dalam dunia Islam pada masanya dan pada abad pertengahan baik di dunia timur maupun dunia barat. Beliau adalah dokter yang pertama kali menggunakan bahan kimia dalam pengobatan.
Beliau lahir di kota Ray, selatan Taheran, sekitar tahun 250 Hijriyah (864 masehi) dan wafat pada tahun 925 Masehi. Beliau pergi ke Bagdad ketika usianya hampir tiga puluh tahun dan tinggal disana untuk beberapa waktu. Beliau sangat suka belajar tentang ilmu yang bersifat rasional, sastra dan puisi meskipun sebelumnya beliau suka mempelajari tentang simian dan kimia. Selanjutnya beliau pada masa muda belajar tentang ilmu kedokteran pada Ali bin Rabin ath-Thabari.
Ar-Razi adalah seorang dokter yang hebat, beliau juga salah satu pendiri kimia modern sehingga beliau dijuluki bapak kimia modern. Dalam beberapa prestasinya, Ia juga membagi bahan-bahan yang dibagi dalam empat kategori, yaitu : logam, tanaman, hewan dan bahan-bahan derivative. Selain itu beliau adalah orang pertama yang mengekstrak alkohol dengan penyulingan bahan tepung dan sakarin serta menjadikannya untuk fermentasi zat yang manis, dan juga merupakan orang pertama yang berhasil membedakan soda, asam sulfat dan kalium. Selain itu beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan kemoterapi dan banyak lagi penemuan-penemuannya di bidang kesehatan yang banyak membantu umat manusia.[1]
Selain berjasa dibidang kedokteran, beliau juga merupakan filosof yang banyak menghasilkan buah-buah pikiran yang bermanfaat bagi umat islam. Beberapa karyanya antara lain; Kitab Kabir fi an-Nafs, Kitab Shaghir fi an-Nafs, Kitab fi an-Nafs Laisat bi Jism, Kitab fi an-Nafs al-Mughtarrah, Kitab fi an-Nafs al-Kabirah dan banyak lagi yang lainnya. Menurut Ibnu Abi Ushaibiah, ar-Razi mengarang 232 buku dan risalah. Sebagian besar berkaitan dengan bidang kedokteran, dan sebagian lainnya berkaitan dengan logika, fisika, metafisika, ketuhanan, psikologi ilmu mata, kimia, biologi dan arsitektur.[2]



B.     FALSAFAT AR-RAZI
Ar-Razi adalah seorang filosof yang berpikir obyekti dan radikal serta mendalam, hal itu terbukti dengan banyak sekali buku dan makalah yang beliau hasilkan. Beberapa pemikiran beliau antara lain adalah :

1.      Falsafat Lima Kekal
Al-Razi terkenal dengan falsafat lima kekalnya yang membahas tentang, Tuhan, Jiwa, Universil, materi Pertama, Ruang Absolut dan Zaman Absolut. Mengenai zaman absolut, ia membuat perbedaan antara zaman mutlak dan zaman terbatas. Yang pertama kekal dalam arti tidak bermula dan tak berakhir, dan yang kedua disifati oleh angka.[3]
Bagi benda keliam hal ini adalah :
-          Materi : Merupakan apa yang ditangkap dengan panca indera  tentang benda tersebut.
-          Ruang : Merupakan tempat bagi materi, karena materi membutuhksn tempat.
-          Zaman : Zaman ada karena materi berubah-ubah keadaannya.
-          Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh. Dan diantara yang hidup adapula yang berakal yang dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur.
-          Perlu adanya pencipta 
Tuhan dan roh merupakan yang hidup dan aktif. Ada pula materi yang tidak hidup dan pasif, selebihnya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif, yaitu ruang dan zaman. Materi itu kekal, karena diciptaan dari tiada (creato ex nihilo) namun hal tersebut adalah hal yang mustahil. Jika materi kekal maka ruang akan kekal, karena materi itu ada dalam ruang, serta mengalami perubahan, dan perubahan menandakan zaman, jika materi kekal maka zaman juga kekal.
Materi pertama atau materi absolut mempunyai bentuk atom yang masing-masing mempunyai volume. Atom yang padat merupakan atom tanah, selanjutnya adalah atom air, atom udara dan atom api. Jika alam hancur maka atom-atom akan bercerai berai kembali.

2.      Roh dan Materi
Menurut ar-Razi, alam diciptakan oleh Tuhan, namun dalam arti disusun dari bahan yang telah ada. Ia menambahkan, bahwa Tuhan pada mulanya tidak ingin menciptakan alam ini, namun pada suatu ketika roh tertarik pada materi pertama dan bermain dengan materi pertama tersebut tetapi materi pertama berontak. Tuhan datang menolong roh dengan membentuk alam ini dalam susunan yang kuat sehingga roh dapat mencari kesenangan materi dalamnya. Tuhan mewujudkan manusia yang didalamnya terdapat roh. Terikat pada materi, roh lupa pada hakikatnya dan dan lupa bahwa kesenangan yang sesungguhnya tidak terletak pada penyatuannya dengan materi, melainkan dalam melepasnya roh dari materi. Oleh karena itu Allah menciptakan akal yang berasal dari zat Tuhan sendiri untuk menyadarkan manusia yang terpedaya oleh kesenangan materi.[4] Ar-razi juga juga menambahkan bahwa, kesenangan yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan berfilsafat dan roh akan tetap tinggal di alam materi ini, selama belum mensucikan diri denga filsafat. Ketika alam ini hancur dan roh sudah bersih, maka semua akan kembali ke asalnya.

3.      Rasio dan Agama
Dalam hal rasio dan agama, ar-Razi banyak menuai perbedaan pemikirannya dengan pemahaman agama, beliau tidak percaya akan adanya nabi dan wahyu karena menurutnya akal manusia kuat untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk, untuk tahu hakikat tuhan, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia. Menurutnya manusia mempunyai kemampuan berpikir yang sama, kemudia yang membedakannya hanya pada tingkat pendidikan dan perkembangannya. Dalam buku Falsafat dan Mistisme dalam islam karya Harun Nasution, dikatakan bahwa nabi-nabi menurut ar-Razi membawa peperangan, pertentangan dan kebencian antar umat manusia, dia juga mengkritik semua agama, karena menurutnya agama hanya menjadi alat dari penguasa dan tradisi belaka. Al-Quran baginya bukan merupakan mukjizat, beliau lebih cenderung pada buku-buku falsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan. Namun beliau masih percaya akan adanya tuhan.
Ar-Razi lebih bercondong pada pemikiran phytagoras mengenai hubungan manusia kepada tuhan, namun pendekatan dari ar-Razi tentang hal ini tidak jelas, beliau adalah seorang yang zahid namun menganjurkan modernisasi. Dia menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akhiratnya. Beberapa pendapat ar-razi yang bertentangan dengan ajaran islam adalah :
-          Tidak percaya pada wahyu.
-          Al-Quran bukan merupakan mukjizat.
-          Tidak percaya pada para nabi.
-          Ada hal yang kekal yang tidak bermula dan tidak berakhir selain tuhan.

4.      Sanggahan Ar-Razi Menolak Kenabian
Ar-Razi, dalam beberapa buku yang menulis tentang pemikiran-pemikirannya, menjelaskan bahwa beliau tidak percaya pada nabi dan wahyu. Namun, dalam karyanya yang berjudul Bar al-Sa’ah dan Sirr al-Asrar.[5] Al-Razi menuliskan ungkapan semacam ini, “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada ciptaannya yang terbaik, Nabi Muhammad, dan keluarganya.” Dan dalam ungkapan lain, “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada sayid kita, kekasih kita, dan penolong kita di hari kiamat, yaitu Muhammad, mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepadanya.” Beberapa catatan ini menunjukkan bahwa Al-Razi tidak serta merta menolak kenabian.

5.      Falsafat Jiwa
Menurut Ar-Razi, manusia memiliki tiga jiwa, yaitu an-Nafs an-Nathiqah al-Ilahiyah (Jiwa yang bersifat rasional dan ilahiyah), an-Nafs al-Ghadhabiyah wa al-Hayawaniayah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan), dan an-Nafs an-Nabatiyah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat vegetative, tumbuhan dan syahwat).
Jiwa hewani dan vegetatif merupakan bagiann dari jiwa rasional. Jiwa vegetatif berfungsi untuk member makan pada badan yang berkedudukan sebagai alat dan perangkat jiwa rasional. Karena badan dapat mengalami kerapuhan atau kerusakan maka badan membutuhkan makanan untuk mengganti sel-selnya yang rusak. Sedangkan fungsi jiwa emosi adalah untuk membantu jiwa rasional dalam melawan syahwat dan mencegah agar jiwa rasional untuk terlalu masuk ke dalam syahwat dan mengabaikan fungsi dasarnya.
Ar-Razi membahasakan jiwa emosi adalah kelenjar jantung yang menjadi sumber panas dan detak jantung, Jiwa syahwat baginya adalah kelenjar hati yang menjadi sumber makanan, pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jiwa rasional adalah kumpulan kelenjar otak, karena indera, keinginan, imajinasi, berpikir dan mengingat adalah bersumber dari otak.[6]

6.      Kenikmatan dan Penderitaan
Dalam buku Zad al-Musafir karangan Abu Muin Nashir bin Khasru bin Harits al-Qadiyani al-Balkhi al-badjhasyani (wafat sekitar tahun 481 H) yang terkenal dengan julukan Nashir Khasru terdapat salah satu ide pikiran buku ar-razi yang berjudul ath-Thibb ar-Ruhani atau makalahnya yang berjudul Fi Mahiyah al-Ladzdzah.  Buku ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab oleh Paul Cruss dan dimuat dalam buku Rasail Falsafiyah karangan ar-Razi. Ide atau pemikiran ar-Razi tentang penderitaan dan kenikmatan telah dipengaruhi oleh pendapat Plato dalam buku Themes.
Ar-Razi mengemukakan bahwa kenikmatan adalah rehat dari penderitaan, sehingga tak ada kenikmatan kecuali setelah penderitaan. Kenikmatan baginya adalah perasaan yang menyenangkan, sebaliknya dengan penderitaan yang merupakan perasaan yang menyiksa. Perasaan tersebut merupakan pengaruh dari inderawi, sedangkan pengaruh itu adalah tindakan si pemberi pengaruh terdahap yang dipengaruhi, lalu keterpengaruhan adalah perubahan kondisi orang yang mendapat pengaruh.
Menurut a-Razi, jika orang yang mempengaruhi memindahkan orang yang terpengaruh dari keadaan alamiahnya, maka terjadilah penderitaan. Sebaliknya, jika orang yang mempengaruhi mengembalikan lagi orang yang terpengaruh tersebut ke dalam keadaan alamiahnya, maka akan terjadi kenikmatan. Maka sesungguhnya kenikmatan tidak akan terjadi kecuali setelah keluar dari keadaan alami yang didalamnya terdapat penderitaan.
Keadaan alamiyah tidak bersifat inderawi, karena penginderaan terjadi akibat pengaruh dari yang memberi pengaruh terhadap yang dipengaruhi dan memindahkannya dari keadaan semula. Keadaan alamiyah adalah keadaan yang berkaitan dengan keadaan yang lain atau bukan karena perubahan atau pengaruh, maka dari itu tidak bersifat inderawi. Sesuatu yang tidak dicapai oleh perasaan tidak akan menjadi kenikmatan atau penderitaan. Jadi, keadaan alamiyah bukanlah kenikmatan atau penderitaan.

7.      Memperbaiki Akhlak Jiwa
Terdapat dua prinsip penting yang dikemukakan oleh ar-Razi dalam membahas topik perbaikan jiwa. Prinsip tersebut adalah dharurah tahakkum al-aql fi al-hawa (Urgensi pengendalian akal atas hawa nafsu) dan qam’u al hawa wa asysyahwat (pencegahan hawa nafsu dan syahwat).

a.      Urgensi pengendalian Akal atas hawa Nafsu
Akal adalah kemampuan untuk memahami semua hal yang ada dalam alam raya dan alat untuk mencapai makrifat Allah. Jika demikian maka akal adalah rujukan dari berbagai masalah atau perkara. Akal tidak boleh dikuasai hawa nafsu dan kemudian menyesatkan akal tersebut dari jalannya.  Jadi, akal haruslah menguasai hawa nafsu. Akal harus dijadikan pengendali dari berbagai perkara, maka akal akan menjadi jernih dan mencerahkan serta menghantarkan kita pada tujuan akhir manusia dan menjadi bahagia karena anugerah akal.

b.      Mencegah Hawa Nafsu dan Syahwat
Manusia mempunyai kelebihan dari ciptaan Tuhan yang lainnya, yaitu kemampuannya dalam menguasai keinginan dan bertindak setelah berpikir. Ar-Razi mengatakan bahwa mengkekang hawa nafsu adalah hal yang wajib bagi setiap orang yang berakal. Menurutnya segala penyakit jiwa berasal dari hawa nafsu dan syahwat. Melawan hawa nafsu sangat susah dilakukan, namun akan menjadi mudah jika dibiasakan mencegah syahwat yang ringan dan meninggalkan keinginan yang tidak dibenarkan akal. Kemudian meningkatkannya. Bisa dikatakan bahwa prinsip ar-Razi ini merupakan prinsip penahapan dalam mempelajari hal yang sulit dan dengan metode pembentukan.

c.       Contoh-contoh Akhlak Jiwa yang Buruk dan Perbaikannya
Ar-Razi menyatakan bahwa jika manusia dapat memperbaiki akhlaknya, maka ia harus mengenalnya. Ar-Razi menambahkan bahwa untuk mengenal aib sendiri maka orang tersebut harus meminta bantuan pada orang lain yang berakal dan selalu bergaul dengannya untuk dengan tegas mengatakan segala aib yang ada. Berikut adalah contoh akhlak jiwa yang hina dan metode terapi menurut ar-Razi.

-          Cinta dan Asmara
Ar-Razi dalam pembahasannya mengenai kenikmatan dan penderitaan ini sangat berkaitan dalam hal asmara. Orang yang kasmaran menurutnya adalah orang yang umumnya hanya membayangkan kenikmatan yang akan diperoleh tanpa akan terbetik dihatinya penderitaan dan sakit yang akan dialami dalam waktu yang panjang. Menurut ar-Razi, jika seseorang yang kasmaran memikirkan kadar penderitaan dalam asmara, maka ia tidak akan menjadikan asmara sebagai hal yang berharga, sehingga perhatiannya terhadap asmara berkurang.
Ar-Razi juga mengatakan bahwa orang-orang yang tengah kasmaran akan merasa letih karena syahwat yang tidak mereka peroleh hingga akhir dan tidak membuatnya nyaman. Mereka selalu menderita lantaran dorongan atas pemuasan syahwat, penysalan, iri dan sifat tidak rela. Semua itu terjadi karena angan yang tidak pernah berujung. Asmara akan semakin kuat jika keintiman mendekap sehingga mereka takut akan berpisah. Hal ini akan mengakibatkan jiwa mereka semakin tersiksa. Maka dari itu, orang yang berakal haruslah mencegah dirinya dari asmara, sebelum asmara tersebut menjadi besar dan sulit keluar dari jeratan asmara.

-          Ujub
Ujub muncul ketika seseorang memandang lebih dan lebih terhadap dirinya, sehingga dia menginginkan pujian yang melebihi seharusnya. Sifat ini membuat seseorang memandang orang lain tidak lebih utama daripada dirinya. Sifat ujub ini dapat diatasi dengan cara mengenal aib sendiri melalui orang lainnyang dekat dengannya.

-          Hasud
Hasud adalah kebencian seseorang terhadap orang lain yang mendapatkan kebajikan. Sifat ini sangat berbahaya dan menyakiti jiwa sekaligus badan. Jiwa akan menjadi lemah serta menimbulkan sejumlah gejala gangguan jiwa semisal, sedih,letih dan kepikiran. Badan akan menjadi gangguan fisik seperti halnya tidak bisa tidur, stress dan lain sebagainya. Diantara factor yang membantu orang berakal mudah membebaskan diri dari sifat hasud adalah dengan merenungi kondisi keragaman posisi dan prestasi manusia secara umum.

8.      Mencegah Kesedihan
Ar-Razi mendefinisikan kesedihan sebagai suatu gejala otak yang terjadi karena kehilangan sesuatu yang dicintai. Menurutnya, karena kesedihan mengotori pikiran dan akal serta menyiksa jiwa dan fisik, maka sewajarnya kitra menyiasati untuk mencegah dan menolaknya, atau mengurangi dan melemahkannya jika memungkinkan. Hal itu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, dengan bersikap hati-hati sebelum kesedihan terjadi agar tidak terlalu sedih jika kehilangan dan yang kedua yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi kesedihan tersebut.
Ar-Razi menyebutkan beberapa cara untuk mengataasi kesedihan, yaitu :
1.      Menjauhi sebab-sebab munculnya kesedihan dan tidak terlena dalam kenikmatan.
2.      Selalu mengingat bahwa tak ada yang abadi.
3.      Bersikap hati-hati, dan tidak mengkhususkan sesuatu dalam hatinya , melainkan ia harus mengikutkan hal lain agar dapat menjadi pengganti ketika kehilangan.

Ar-Razi juga menyebutkan sejumlah cara untuk melawan kesedihan secara total atau menguranginya jika terjadi, yaitu :
1.      Tidak membesar-besarkan sesuatu yang hilang. Semua perubahan yang terjadi adalah kewajaran.
2.      Selalu berpikir bahwa akan datang pengganti dari apa yang hilang.
3.      Mengurangi hal-hal yang dicintai.

Pendapat ar-Razi mengenai kesedihan dan mencintai sesuatu secara berlebihan akan menimbulkan kesedihan sama dengan pendapat al-Kindi.xx Ar-Razi terpengaruh oleh buku Fi al-Hilah li Daf’I al-Ahzan.


C.     PENUTUP
Falsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas kebenaran sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Falsafat adalah kerangka yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, yang bertujuan untuk menjadi jalan kebenaran, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, dan dimensi akliah manusia harus dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.
D.    KESIMPULAN
Ar-Razi adalah filosof yang meninggikan rasio akal, beliau juga seorang ahli kesehatan yang terkenal pada masanya. Beliau sangat ahli dalam semua cabang pengetahuan dan berkontribusi secara signifikan dalam dunia kedokteran, kimia, matematika, dan sastra. Dalam berfilsafat, beberapa pemikiran beliau tidak jauh berbeda adanya dengan filosof-filosof terdahulu, dan adapula pemikiran beliau yang sangat kontroversial diantara umat islam karena tidak selaras dengan ajaran Islam. Dibalik apapun yang menjadi hasil pemikira ar-Razi, beliau tetaplah filosof muslim yang cerdas dan menghasilkan banyak hal yang bisa diambil manfaatnya untuk kepentingan umat.


DAFTAR PUSTAKA
Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Erlangga, Jakarta, 2006.
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1980.
Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Pustaka Hidayah, Bandung.
Wahyu Murtingsih, 33 Dokter Muslim Paling Berpengaruh Di Dunia, Cyrillus Publisher, Yogyakarta.


[1] Wahyu Murtiningsih, 33 Dokter muslim Paling Berpengaruh di Dunia, 2010.
[2] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, 1993.
[3]  Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, 1973.
[4] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, 1973.
[5] Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, 2006.
[6] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, 1993.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 belajar dan bertelur. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates