BREAKING NEWS

Blogger news

Selasa, 15 Oktober 2013

IBNU SINA


FILOSOF ISLAM IBNU SINA
Oleh : Fachri Sakti Nugroho

A.    PENDAHULUAN
Nama lengkap dari Ibnu Sina adalah Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Beliau adalah filosof yang dilahirkan di desa Afsyanah, sebuah desa dekat Bukhara pada tahun 370 Hijriah/980 Masehi, berdasarkan riwayat Ibnu Khalkan, atau 375 Hijriyah/985 Masehi, berdasarkan riwayat Abi Ushaibiyah.[1] Ibnu Sina pindah bersama keluarganya ke Bukhara dan belajar AlQuran, dan sastra disana saat usianya sekitar sepuluh tahun. Belia juga belajar ilmu fiqih kepada Ismail dan belajar ilmu mantik kepada Abdullah Natalie. Selain itu Ibnu Sina juga belajar fisika dan ketuhanan serta mulai mengobati orang-orang yang sakit sehingga namanya semakin dikenal.
Ibnu Sina adalah orang yang sangat senang mencari ilmu. Pada suatu ketika, jika beliau mendapati kesulitan dalam menjawab permasalahan, beliau berwudlu kemudian pergi ke masjid untuk berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dalam menjawab dan membuka ilmunya. Diriwayatkan pula bahwa beliau pernah mendapati kesulitan dalam memahami buku metafisika Aristoteles, sampai-sampai dia beliau membacanya sebanyak empat puluh kali, tapi tetap belum bisa memahaminya hingga putus asa. Disaat itulah secara kebetulan beliau memegang buku karangan Al-Farabi tetntang tujuan buku tersebut. Dia sangat bahagia karena dapat memahami buku metafisika tersebut. Sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas keberhasilannya itu dia bersedekah kepada kaum miskin.[2]

B.     FALSAFAT IBNU SINA
Ibnu Sina menyusun buku-buku besar dan panjang dalam filsafat semisal asy-Syifa’ atau buku ringkasan semisal an-Najah.[3] Beliau juga tertarik pada psikologi, dan masih banyak lagi karangan Ibnu Sina yang bermanfaat bagi dunia.

1.      Tiga Unsur
Tiga unsur dari emanasi Ibnu Sina adalah :
-          Usur Ilmu Kalam. Sama seperti halnya kaum Mutakallimin yang mengelompokan maujudat (segala yang ada), Ibnu Sina juga mengelompokannya menjad dua, yaitu yang wajib dan yang mungkin. Yang dimaksud dengan wajib ialah sesuatu yang ada, sedangkan yang mungkin adlah sesuatu yang terbayang adanya namun terbayang pula tidak adanya.
Wajib terbagi menjadi dua, yaitu wajib bidzatihi (wajib dengan zatnya) dan wajib bighairihi (wajib dengan yang lainnya). Wajib bidzatihi adalah sesuatu yang keberadaanya tidak bergantung pada sebab yang lain. Wajib bidzatihi ini hanya diperuntukkan kepada tuhan.
Wajib bighairihi adalah sesuatu yang adanya berasal dari benda lain daripada zatnya sendiri. Seperti halnya kebakaran yang tidak mungkin adanya tanpa api dan benda-benda lain yang terbakar.
Wajib bighairihi disebut juga mumkin bidzatihi (mungkin denga zatnya) yaitu sesuatu yang terbayang dan tidak terbayang adanya karena zatnya sendiri, karena bukan yag lainnya. Mumkin juga terbagi menjadi dua, yaitu mumkin bidzatihi (mungkin dengan zatnya) dan mumkin bighairihi (mungkin dengan yang lainnya). Mumkin bighairihi adalah sesuatu yang terbayang karena  sebab yang lain juga, semisal kelahiran anak itu mugkinn karena dengan adanya sebab perkawinan suami istri
Jadi kesimpulannya maujudat ini ada tiga macam ; wajib bidzatihi, yaitu Allah, wajib bighairihi dan mumkin bighairihi kedua-duanya alam mahluk.
-          Unsur yang berasal dari prinsi filsafat zaman elea dan neo-platonisme yang menjadi prinsip ummum bahwa yang satu hanya mengeluarkan satu juga (la yasduru’anil wahid illa wahid). Dalam kitab an-najah, beliau mengatakan bahwa darri yang satu itu, ditinjau dari yang satunya, hanya dapat diperoleh satu juga (innal wahida min haitsu huwa wahidun innama yujadu wahidun). Ini berarti jika Tuhan mengadakan satu wujud, maka wujud itu haruslah satu juga.
-          Unsur yang berasal dari filsafat Aristoteles dan neo-platonisme tentang akal. Seperti halnya Al-Farabi, Ibnu Sina juga mengatakan Allah itu Al-Aqlu, dan beremanasi seperti teori emanasi Al-Farabi.




2.      Teori Emanasi
Dalam emanasinya, pendapat Ibnu Sina tak jauh berbeda dengan Al-Farabi, hanya saja, ada sedikit tambahan dari Ibnu Sina mengenai wujud lain yang berbeda dari pemikiran Al-Farabi, yaitu jirmul faalakil aqsha dan nafsul falaqil aqsha yang muncul tatkala akal ber-ta’aqqul mengeluarkan akal kedua. Yang dimaksud jirmul faalakil aqsha adalah langit dengan semua planetnya, sedangkan nafsul falaqil aqsha adalah jiwa dari langit denga semua planetnya. Jadi, menurut Ibnu Sina, tiap-tiap al-‘aql itu menyebabkan timbulnya tiga macam keadaan, yaitu selain dengan akal yang berikutnya juga mengeluarkan jirim langit dan planetnya serta jiwa langit dan planet-planetnya.[4]
Menurutnya, falak mempunyai jiwa dan menggerakannya secara langsung karena berhubungan langsung dengan falak, sedangkan al-aql menggerakannya dari jauh karena al-aql terasing (munfarid). Al-aql mempunyai hal yang disebut al-khair (kebaikan), dan kebaikan inilah yang menjadi tujuan falak untuk mencapai kesempurnaan dirinya.
Untuk mencapai kesempurnaannya, falak berputar mengelilingi al-aqlul-mufarid. Namun falak tidak bisa mencapainya karena setiap falak mencapai satu tingkatan kesempurnaan dalam lingkungan akalnya, dia mempunyai hajat baru kearah akal yang lebih tinggi kesempurnaanya. Maka dari itu, akal pertamalah yang paling sempurna karena merupakan limpahan langsung dari Tuhan. Selanjutnya akal kedua lebih rendah dari akal pertama, dan akal ketiga lebih rendah dari akal kedua, dan seterusnya. Pelimpahan Tuhan atas akal-akal ini terjadi atas kerelaan yang dipikirkan (faidlu ridla ma’qul) oleh Tuhan. Alasan logikanya, limpahan ini berarti bahwa barang yang diingini lebih tinggi tingkatanya dari yang mengingini.

3.      Falsafat Jiwa
Filsafat kejiwaan Ibnu Sina banyak terpengaruh oleh filosof-filosof sebelumnya seperti Aristoteles, Galius dan Plotinus, namun tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai pemikiran sendiri. Banyak karangan dari Ibnu Sina yang menarik perhatian dari para pemikir-pemikir modern dari segi filsafatnya, antara lain adalah :
a.       S. Landauser yang menerbitkan karangan Ibnu Sina berjudul Risalatul-Quwa an-Nasian, tahun 1875, berdasarkan teks arab, ibrani dan latin.
b.      Carra de Vaux dalam bukunya Avicenna.
c.       Dr. Gamil Saliba dalam bukunya, Etude sur ia Metaphysique d’Avicenna.
d.      Dr. Utsman Najati dalam bukunya, Nadlariat al-Idrak al-Hissi inda Ibnu Sina.
e.       B. Haneberg dalam bukunya, Zur Erkentnislehre von Ibnu Sina.
Segi-segi kejiwaan Ibnu Sina dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu[5] :
-          Segi fisika, yang membicarakan  tentang macam-macamnya jiwa, pembagian kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain-lain.
-          Segi metafisika, yang membahas tentang wujud dan jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa. Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa, yaitu :

a.      Dalil alam kejiwaan
Dalam diri terdapat peristiwa-peristiwa yang tak mungkin ditafsirkan kecuali setelah mengakui keberadaan jiwa. Peristiwa itu antara lain adalah gerak dan pengenalan.      Gerak ada dua macam, yaitu :
-          Gerak paksaan yang mana terjadi karena dorongan dari luar dan kemudian menggerakan benda tersebut.
-          Gerak bukan paksaan, dan gerak ini dibagi menjadi dua :
1.      Gerak yang sesuai dengan ketentuan alam, seperti jatuhnya benda dari atas ke bawah.
2.      Gerak yang terjadi dengan melawan hokum alam, seperti manusia yang berjalan sedangkan harusnya dia diam karena berat badannya, atau seperti halnya burung yang terbang.
-          Pengenalan (pengetahuan), yang menunjukkan bahwa adanya kekuatan lain yang terdapat pada sebagian mahluk yang dikaruniai pengetahuan.

b.      Dalil “aku” dan kesatuan gejala-gejala kejiwaan
Menurut Ibnu Sina, apabila seseorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Keadaan tersebut diungkapkan oleh Ibnu Sina dalam kata-katanya sebagai berikut : “apabila seseorang sedang sibuk menghadapi suatu urusan, ia mengecam dirinya sehingga ia berkata “saya mengerjakan begini atau begitu”.
Pada kata-kata tersebut kita dapati pikiran tentang “saya” yang menjadi jiwa dan kekuatanya. Juga dalam peristiwa kejiwaan, menurut Ibnu Sina terdapat keserasian dan koordinasi yang mengesankan adanya suatu kekuatan yang menguasai dan mengaturnya. Saat sedih, gembira, cinta dan benci, kesemua peristiwa tersebut keluar dari pribadi yang satu dan dari kekuatan terbesar yang dapat menggabungkan peristiwa-peristiwa yang berlainan, dan kekuatan tersebut adalah jiwa.

c.       Dalil kesinambungan
Dalil ini mengatakan bahwa ada kesinambungan antara masa sekarang dengan masa lalu dan masa depan. Kehidupan rohani tidak terputus oleh tidur, bahkan jika ada hubungannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang lalu.Pertalian tersebut terjadi karena peristiwa-peristiwa jiwa merupakan limpahan dari sumber yang satu dan beredar disekitar titik tarik yang tetap.
Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Sina sebagai berikut, “perhatikan, wahai orang yang bijaksana, bahwa engkau yang sekarang, pada jiwamu adalah juga terdapat disepanjang umurmu sehingga engkau selalu ingat akan peristiwa-peristiwa yang engkau alami. Jadi, engkau (jiwa engkau) tetap dan berjalan terus, tanpa diragukan lagi, sedangkan badan engkau beserta bagian-bagiannya tidak tetap dan tidak berjalan terus, tetapi selamanya terurai (terpisah) dan berkurang. Oleh karena itu, kalau seseorang tidak diberi makan selama waktu tertentu, berat badannya akan berkurang sampai hamper seperempatnya, dan dalam tempo dua puluh tahun bagian-bagian badan engkau akan habis sama sekali. Sedangkan engkau mengerti baghwa dirimu (jiwamu) akan tetap ada dalam tempo tersebut, bahkan sepanjang umurmu. Dengan demikian, maka zat engkau (diri jiwa) berlainan dengan badan dan bagian-bagiannya, baik lahir maupun batin.”

d.      Dalil orang terbang atau orang tergantung di udara
Dalil ini adalah dalil terindah yang berasal dari khayalan Ibnu Sina, namun dalil ini tetap menunjukan kebenaran untuk diyakini. Dalil ini mengatakan bahwa, andaikata ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani, kemudian ia menutup matanya hingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada disekelilingnya, kemudian dia diletakkan di udara atau dalam kekosongan sehingga ia tak dapat merasakan suatu persentuhan, bentrokkan tau perlawanan, dan anggota badannya diatur sehingga tidak bersentuhan dan bertemu. Meskipun ini semua terjadi, orang itu tak akan ragu-ragu bahwa dirinya itu ada, meskipun ia sukar menetapkan wujud dari badannya. Bahkan boleh jadi ia tidak mempunyai pikiran sama sekali tentang badan, sedangkan wujud yang digambarkannya adalah wujud yang tidak mempunyai tempat, panjang dan lebar dalam tiga dimensi. Kalau pada saat itu dia membayangkan ada tangan atau kaki, maka dia tidak akan mengira bahwa itu tangan dan kakinya. Dengan demikian, maka penetapan tentang wujud dirinya tidak timbul dari indera atau melalui badan, tetapi dari sumber lain yang berbeda sama sekali dengan badan, yaitu jiwa.”

C.     PENUTUP
Falsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas kebenaran sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Falsafat adalah kerangka yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, yang bertujuan untuk menjadi jalan kebenaran, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, dan dimensi akliah manusia harus dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.

D.    KESIMPULAN
Ibnu Sina adalah seorang filosof yang sangat cinta pada ilmu pengetahuan dan seseorang yang taat karena selalu bersandar pada Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Beliau mampu berpikir melampaui jamannya dengan terbukti hingga sampai saat ini pemikirannya dibidang kesehatan, psikologi, akal, dan jiwanya digunakan oleh para pemikir modern pada saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Erlangga, Jakarta, 2006.
Drs. Poerwantana DKK, Seluk-Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.
Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002.


[1] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, : Pustaka   Hidayah , Bandung, 2002.
[2] Drs. Poerwantana DKK, Seluk-Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.
[3] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, : Pustaka   Hidayah , Bandung, 2002.
[4] Drs. Poerwantana DKK, Seluk-Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.
[5] Drs. Poerwantana DKK, Seluk-Beluk Filsafat Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.

AR RAZI


FILOSOF ISLAM AR-RAZI
Oleh : Fachri Sakti Nugroho

A.    PENDAHULUAN
Nama lengkap dari Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-razi, beliau adalah seorang dokter yang terkenal dalam dunia Islam pada masanya dan pada abad pertengahan baik di dunia timur maupun dunia barat. Beliau adalah dokter yang pertama kali menggunakan bahan kimia dalam pengobatan.
Beliau lahir di kota Ray, selatan Taheran, sekitar tahun 250 Hijriyah (864 masehi) dan wafat pada tahun 925 Masehi. Beliau pergi ke Bagdad ketika usianya hampir tiga puluh tahun dan tinggal disana untuk beberapa waktu. Beliau sangat suka belajar tentang ilmu yang bersifat rasional, sastra dan puisi meskipun sebelumnya beliau suka mempelajari tentang simian dan kimia. Selanjutnya beliau pada masa muda belajar tentang ilmu kedokteran pada Ali bin Rabin ath-Thabari.
Ar-Razi adalah seorang dokter yang hebat, beliau juga salah satu pendiri kimia modern sehingga beliau dijuluki bapak kimia modern. Dalam beberapa prestasinya, Ia juga membagi bahan-bahan yang dibagi dalam empat kategori, yaitu : logam, tanaman, hewan dan bahan-bahan derivative. Selain itu beliau adalah orang pertama yang mengekstrak alkohol dengan penyulingan bahan tepung dan sakarin serta menjadikannya untuk fermentasi zat yang manis, dan juga merupakan orang pertama yang berhasil membedakan soda, asam sulfat dan kalium. Selain itu beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan kemoterapi dan banyak lagi penemuan-penemuannya di bidang kesehatan yang banyak membantu umat manusia.[1]
Selain berjasa dibidang kedokteran, beliau juga merupakan filosof yang banyak menghasilkan buah-buah pikiran yang bermanfaat bagi umat islam. Beberapa karyanya antara lain; Kitab Kabir fi an-Nafs, Kitab Shaghir fi an-Nafs, Kitab fi an-Nafs Laisat bi Jism, Kitab fi an-Nafs al-Mughtarrah, Kitab fi an-Nafs al-Kabirah dan banyak lagi yang lainnya. Menurut Ibnu Abi Ushaibiah, ar-Razi mengarang 232 buku dan risalah. Sebagian besar berkaitan dengan bidang kedokteran, dan sebagian lainnya berkaitan dengan logika, fisika, metafisika, ketuhanan, psikologi ilmu mata, kimia, biologi dan arsitektur.[2]



B.     FALSAFAT AR-RAZI
Ar-Razi adalah seorang filosof yang berpikir obyekti dan radikal serta mendalam, hal itu terbukti dengan banyak sekali buku dan makalah yang beliau hasilkan. Beberapa pemikiran beliau antara lain adalah :

1.      Falsafat Lima Kekal
Al-Razi terkenal dengan falsafat lima kekalnya yang membahas tentang, Tuhan, Jiwa, Universil, materi Pertama, Ruang Absolut dan Zaman Absolut. Mengenai zaman absolut, ia membuat perbedaan antara zaman mutlak dan zaman terbatas. Yang pertama kekal dalam arti tidak bermula dan tak berakhir, dan yang kedua disifati oleh angka.[3]
Bagi benda keliam hal ini adalah :
-          Materi : Merupakan apa yang ditangkap dengan panca indera  tentang benda tersebut.
-          Ruang : Merupakan tempat bagi materi, karena materi membutuhksn tempat.
-          Zaman : Zaman ada karena materi berubah-ubah keadaannya.
-          Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh. Dan diantara yang hidup adapula yang berakal yang dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur.
-          Perlu adanya pencipta 
Tuhan dan roh merupakan yang hidup dan aktif. Ada pula materi yang tidak hidup dan pasif, selebihnya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif, yaitu ruang dan zaman. Materi itu kekal, karena diciptaan dari tiada (creato ex nihilo) namun hal tersebut adalah hal yang mustahil. Jika materi kekal maka ruang akan kekal, karena materi itu ada dalam ruang, serta mengalami perubahan, dan perubahan menandakan zaman, jika materi kekal maka zaman juga kekal.
Materi pertama atau materi absolut mempunyai bentuk atom yang masing-masing mempunyai volume. Atom yang padat merupakan atom tanah, selanjutnya adalah atom air, atom udara dan atom api. Jika alam hancur maka atom-atom akan bercerai berai kembali.

2.      Roh dan Materi
Menurut ar-Razi, alam diciptakan oleh Tuhan, namun dalam arti disusun dari bahan yang telah ada. Ia menambahkan, bahwa Tuhan pada mulanya tidak ingin menciptakan alam ini, namun pada suatu ketika roh tertarik pada materi pertama dan bermain dengan materi pertama tersebut tetapi materi pertama berontak. Tuhan datang menolong roh dengan membentuk alam ini dalam susunan yang kuat sehingga roh dapat mencari kesenangan materi dalamnya. Tuhan mewujudkan manusia yang didalamnya terdapat roh. Terikat pada materi, roh lupa pada hakikatnya dan dan lupa bahwa kesenangan yang sesungguhnya tidak terletak pada penyatuannya dengan materi, melainkan dalam melepasnya roh dari materi. Oleh karena itu Allah menciptakan akal yang berasal dari zat Tuhan sendiri untuk menyadarkan manusia yang terpedaya oleh kesenangan materi.[4] Ar-razi juga juga menambahkan bahwa, kesenangan yang sesungguhnya hanya bisa diraih dengan berfilsafat dan roh akan tetap tinggal di alam materi ini, selama belum mensucikan diri denga filsafat. Ketika alam ini hancur dan roh sudah bersih, maka semua akan kembali ke asalnya.

3.      Rasio dan Agama
Dalam hal rasio dan agama, ar-Razi banyak menuai perbedaan pemikirannya dengan pemahaman agama, beliau tidak percaya akan adanya nabi dan wahyu karena menurutnya akal manusia kuat untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk, untuk tahu hakikat tuhan, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia. Menurutnya manusia mempunyai kemampuan berpikir yang sama, kemudia yang membedakannya hanya pada tingkat pendidikan dan perkembangannya. Dalam buku Falsafat dan Mistisme dalam islam karya Harun Nasution, dikatakan bahwa nabi-nabi menurut ar-Razi membawa peperangan, pertentangan dan kebencian antar umat manusia, dia juga mengkritik semua agama, karena menurutnya agama hanya menjadi alat dari penguasa dan tradisi belaka. Al-Quran baginya bukan merupakan mukjizat, beliau lebih cenderung pada buku-buku falsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan. Namun beliau masih percaya akan adanya tuhan.
Ar-Razi lebih bercondong pada pemikiran phytagoras mengenai hubungan manusia kepada tuhan, namun pendekatan dari ar-Razi tentang hal ini tidak jelas, beliau adalah seorang yang zahid namun menganjurkan modernisasi. Dia menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akhiratnya. Beberapa pendapat ar-razi yang bertentangan dengan ajaran islam adalah :
-          Tidak percaya pada wahyu.
-          Al-Quran bukan merupakan mukjizat.
-          Tidak percaya pada para nabi.
-          Ada hal yang kekal yang tidak bermula dan tidak berakhir selain tuhan.

4.      Sanggahan Ar-Razi Menolak Kenabian
Ar-Razi, dalam beberapa buku yang menulis tentang pemikiran-pemikirannya, menjelaskan bahwa beliau tidak percaya pada nabi dan wahyu. Namun, dalam karyanya yang berjudul Bar al-Sa’ah dan Sirr al-Asrar.[5] Al-Razi menuliskan ungkapan semacam ini, “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada ciptaannya yang terbaik, Nabi Muhammad, dan keluarganya.” Dan dalam ungkapan lain, “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada sayid kita, kekasih kita, dan penolong kita di hari kiamat, yaitu Muhammad, mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepadanya.” Beberapa catatan ini menunjukkan bahwa Al-Razi tidak serta merta menolak kenabian.

5.      Falsafat Jiwa
Menurut Ar-Razi, manusia memiliki tiga jiwa, yaitu an-Nafs an-Nathiqah al-Ilahiyah (Jiwa yang bersifat rasional dan ilahiyah), an-Nafs al-Ghadhabiyah wa al-Hayawaniayah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan), dan an-Nafs an-Nabatiyah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat vegetative, tumbuhan dan syahwat).
Jiwa hewani dan vegetatif merupakan bagiann dari jiwa rasional. Jiwa vegetatif berfungsi untuk member makan pada badan yang berkedudukan sebagai alat dan perangkat jiwa rasional. Karena badan dapat mengalami kerapuhan atau kerusakan maka badan membutuhkan makanan untuk mengganti sel-selnya yang rusak. Sedangkan fungsi jiwa emosi adalah untuk membantu jiwa rasional dalam melawan syahwat dan mencegah agar jiwa rasional untuk terlalu masuk ke dalam syahwat dan mengabaikan fungsi dasarnya.
Ar-Razi membahasakan jiwa emosi adalah kelenjar jantung yang menjadi sumber panas dan detak jantung, Jiwa syahwat baginya adalah kelenjar hati yang menjadi sumber makanan, pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jiwa rasional adalah kumpulan kelenjar otak, karena indera, keinginan, imajinasi, berpikir dan mengingat adalah bersumber dari otak.[6]

6.      Kenikmatan dan Penderitaan
Dalam buku Zad al-Musafir karangan Abu Muin Nashir bin Khasru bin Harits al-Qadiyani al-Balkhi al-badjhasyani (wafat sekitar tahun 481 H) yang terkenal dengan julukan Nashir Khasru terdapat salah satu ide pikiran buku ar-razi yang berjudul ath-Thibb ar-Ruhani atau makalahnya yang berjudul Fi Mahiyah al-Ladzdzah.  Buku ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab oleh Paul Cruss dan dimuat dalam buku Rasail Falsafiyah karangan ar-Razi. Ide atau pemikiran ar-Razi tentang penderitaan dan kenikmatan telah dipengaruhi oleh pendapat Plato dalam buku Themes.
Ar-Razi mengemukakan bahwa kenikmatan adalah rehat dari penderitaan, sehingga tak ada kenikmatan kecuali setelah penderitaan. Kenikmatan baginya adalah perasaan yang menyenangkan, sebaliknya dengan penderitaan yang merupakan perasaan yang menyiksa. Perasaan tersebut merupakan pengaruh dari inderawi, sedangkan pengaruh itu adalah tindakan si pemberi pengaruh terdahap yang dipengaruhi, lalu keterpengaruhan adalah perubahan kondisi orang yang mendapat pengaruh.
Menurut a-Razi, jika orang yang mempengaruhi memindahkan orang yang terpengaruh dari keadaan alamiahnya, maka terjadilah penderitaan. Sebaliknya, jika orang yang mempengaruhi mengembalikan lagi orang yang terpengaruh tersebut ke dalam keadaan alamiahnya, maka akan terjadi kenikmatan. Maka sesungguhnya kenikmatan tidak akan terjadi kecuali setelah keluar dari keadaan alami yang didalamnya terdapat penderitaan.
Keadaan alamiyah tidak bersifat inderawi, karena penginderaan terjadi akibat pengaruh dari yang memberi pengaruh terhadap yang dipengaruhi dan memindahkannya dari keadaan semula. Keadaan alamiyah adalah keadaan yang berkaitan dengan keadaan yang lain atau bukan karena perubahan atau pengaruh, maka dari itu tidak bersifat inderawi. Sesuatu yang tidak dicapai oleh perasaan tidak akan menjadi kenikmatan atau penderitaan. Jadi, keadaan alamiyah bukanlah kenikmatan atau penderitaan.

7.      Memperbaiki Akhlak Jiwa
Terdapat dua prinsip penting yang dikemukakan oleh ar-Razi dalam membahas topik perbaikan jiwa. Prinsip tersebut adalah dharurah tahakkum al-aql fi al-hawa (Urgensi pengendalian akal atas hawa nafsu) dan qam’u al hawa wa asysyahwat (pencegahan hawa nafsu dan syahwat).

a.      Urgensi pengendalian Akal atas hawa Nafsu
Akal adalah kemampuan untuk memahami semua hal yang ada dalam alam raya dan alat untuk mencapai makrifat Allah. Jika demikian maka akal adalah rujukan dari berbagai masalah atau perkara. Akal tidak boleh dikuasai hawa nafsu dan kemudian menyesatkan akal tersebut dari jalannya.  Jadi, akal haruslah menguasai hawa nafsu. Akal harus dijadikan pengendali dari berbagai perkara, maka akal akan menjadi jernih dan mencerahkan serta menghantarkan kita pada tujuan akhir manusia dan menjadi bahagia karena anugerah akal.

b.      Mencegah Hawa Nafsu dan Syahwat
Manusia mempunyai kelebihan dari ciptaan Tuhan yang lainnya, yaitu kemampuannya dalam menguasai keinginan dan bertindak setelah berpikir. Ar-Razi mengatakan bahwa mengkekang hawa nafsu adalah hal yang wajib bagi setiap orang yang berakal. Menurutnya segala penyakit jiwa berasal dari hawa nafsu dan syahwat. Melawan hawa nafsu sangat susah dilakukan, namun akan menjadi mudah jika dibiasakan mencegah syahwat yang ringan dan meninggalkan keinginan yang tidak dibenarkan akal. Kemudian meningkatkannya. Bisa dikatakan bahwa prinsip ar-Razi ini merupakan prinsip penahapan dalam mempelajari hal yang sulit dan dengan metode pembentukan.

c.       Contoh-contoh Akhlak Jiwa yang Buruk dan Perbaikannya
Ar-Razi menyatakan bahwa jika manusia dapat memperbaiki akhlaknya, maka ia harus mengenalnya. Ar-Razi menambahkan bahwa untuk mengenal aib sendiri maka orang tersebut harus meminta bantuan pada orang lain yang berakal dan selalu bergaul dengannya untuk dengan tegas mengatakan segala aib yang ada. Berikut adalah contoh akhlak jiwa yang hina dan metode terapi menurut ar-Razi.

-          Cinta dan Asmara
Ar-Razi dalam pembahasannya mengenai kenikmatan dan penderitaan ini sangat berkaitan dalam hal asmara. Orang yang kasmaran menurutnya adalah orang yang umumnya hanya membayangkan kenikmatan yang akan diperoleh tanpa akan terbetik dihatinya penderitaan dan sakit yang akan dialami dalam waktu yang panjang. Menurut ar-Razi, jika seseorang yang kasmaran memikirkan kadar penderitaan dalam asmara, maka ia tidak akan menjadikan asmara sebagai hal yang berharga, sehingga perhatiannya terhadap asmara berkurang.
Ar-Razi juga mengatakan bahwa orang-orang yang tengah kasmaran akan merasa letih karena syahwat yang tidak mereka peroleh hingga akhir dan tidak membuatnya nyaman. Mereka selalu menderita lantaran dorongan atas pemuasan syahwat, penysalan, iri dan sifat tidak rela. Semua itu terjadi karena angan yang tidak pernah berujung. Asmara akan semakin kuat jika keintiman mendekap sehingga mereka takut akan berpisah. Hal ini akan mengakibatkan jiwa mereka semakin tersiksa. Maka dari itu, orang yang berakal haruslah mencegah dirinya dari asmara, sebelum asmara tersebut menjadi besar dan sulit keluar dari jeratan asmara.

-          Ujub
Ujub muncul ketika seseorang memandang lebih dan lebih terhadap dirinya, sehingga dia menginginkan pujian yang melebihi seharusnya. Sifat ini membuat seseorang memandang orang lain tidak lebih utama daripada dirinya. Sifat ujub ini dapat diatasi dengan cara mengenal aib sendiri melalui orang lainnyang dekat dengannya.

-          Hasud
Hasud adalah kebencian seseorang terhadap orang lain yang mendapatkan kebajikan. Sifat ini sangat berbahaya dan menyakiti jiwa sekaligus badan. Jiwa akan menjadi lemah serta menimbulkan sejumlah gejala gangguan jiwa semisal, sedih,letih dan kepikiran. Badan akan menjadi gangguan fisik seperti halnya tidak bisa tidur, stress dan lain sebagainya. Diantara factor yang membantu orang berakal mudah membebaskan diri dari sifat hasud adalah dengan merenungi kondisi keragaman posisi dan prestasi manusia secara umum.

8.      Mencegah Kesedihan
Ar-Razi mendefinisikan kesedihan sebagai suatu gejala otak yang terjadi karena kehilangan sesuatu yang dicintai. Menurutnya, karena kesedihan mengotori pikiran dan akal serta menyiksa jiwa dan fisik, maka sewajarnya kitra menyiasati untuk mencegah dan menolaknya, atau mengurangi dan melemahkannya jika memungkinkan. Hal itu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, dengan bersikap hati-hati sebelum kesedihan terjadi agar tidak terlalu sedih jika kehilangan dan yang kedua yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi kesedihan tersebut.
Ar-Razi menyebutkan beberapa cara untuk mengataasi kesedihan, yaitu :
1.      Menjauhi sebab-sebab munculnya kesedihan dan tidak terlena dalam kenikmatan.
2.      Selalu mengingat bahwa tak ada yang abadi.
3.      Bersikap hati-hati, dan tidak mengkhususkan sesuatu dalam hatinya , melainkan ia harus mengikutkan hal lain agar dapat menjadi pengganti ketika kehilangan.

Ar-Razi juga menyebutkan sejumlah cara untuk melawan kesedihan secara total atau menguranginya jika terjadi, yaitu :
1.      Tidak membesar-besarkan sesuatu yang hilang. Semua perubahan yang terjadi adalah kewajaran.
2.      Selalu berpikir bahwa akan datang pengganti dari apa yang hilang.
3.      Mengurangi hal-hal yang dicintai.

Pendapat ar-Razi mengenai kesedihan dan mencintai sesuatu secara berlebihan akan menimbulkan kesedihan sama dengan pendapat al-Kindi.xx Ar-Razi terpengaruh oleh buku Fi al-Hilah li Daf’I al-Ahzan.


C.     PENUTUP
Falsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas kebenaran sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Falsafat adalah kerangka yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, yang bertujuan untuk menjadi jalan kebenaran, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, dan dimensi akliah manusia harus dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.
D.    KESIMPULAN
Ar-Razi adalah filosof yang meninggikan rasio akal, beliau juga seorang ahli kesehatan yang terkenal pada masanya. Beliau sangat ahli dalam semua cabang pengetahuan dan berkontribusi secara signifikan dalam dunia kedokteran, kimia, matematika, dan sastra. Dalam berfilsafat, beberapa pemikiran beliau tidak jauh berbeda adanya dengan filosof-filosof terdahulu, dan adapula pemikiran beliau yang sangat kontroversial diantara umat islam karena tidak selaras dengan ajaran Islam. Dibalik apapun yang menjadi hasil pemikira ar-Razi, beliau tetaplah filosof muslim yang cerdas dan menghasilkan banyak hal yang bisa diambil manfaatnya untuk kepentingan umat.


DAFTAR PUSTAKA
Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Erlangga, Jakarta, 2006.
Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1980.
Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Pustaka Hidayah, Bandung.
Wahyu Murtingsih, 33 Dokter Muslim Paling Berpengaruh Di Dunia, Cyrillus Publisher, Yogyakarta.


[1] Wahyu Murtiningsih, 33 Dokter muslim Paling Berpengaruh di Dunia, 2010.
[2] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, 1993.
[3]  Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, 1973.
[4] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, 1973.
[5] Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, 2006.
[6] Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, 1993.
 
Copyright © 2014 belajar dan bertelur. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates